Pasalnya, kami tidak ada embel-embel keringanan sama sekali. Jika tidak lulus UN, taruhannya mengulang tahun depan. Itupun kalau lulus. Jika tidak lulus, mau tidak mau harus ikut paket C. Perasaan seperti inilah yang ada dalam benak saya. Sehingga hari-hari kami disekolah tak ada hari tanpa les, bimbingan, dan try-out. Soal-sola ujian menjadi bahasan kami sehari-hari dikala waktu senggang dan istirahat.
Perubahan yang begitu pesat sangat saya rasakan saat itu, itulah dampak posiifnya. Tak ada malas-malasan dalam belajar, jika tidak ingin menyesal kemudian. Jangan seperti kakak kelas, ia harus menanggung malu karena tidak lulus UN. Hal inilah yang memacu saya untuk teurus belajar dalam menghadapi UN, saya tidak ingin mengecewakan semua pihak, terutama sekolah dan keluarga.
Alhamdulillâh, dengan kesabaran dan ketekunan akhirnya UN pun dapat kami jalani dengan baik. Tentunya dengan persiapan yang baik dan ditunjang dengan sikap optimis pula. Semuanya dapat kami leawati dengan cukup baik, meski banyak kekurangan. Alhasil, semuanya lulus dengan nilai yang baik, meskipun tidak mendapatkan nilai tertinggi.
Jadi, walaupuan UN sebentar lagi akan dilaksanakan, pesan saya hanya satu yaitu jangan dijadikan beban. Kalau dijadikan beban yang ada malah kecemasan, ketidaktenangan, dan tidak fokus. Nah, justru hal seperti inilah yang berbahaya. Nanti malah “menyerah sebelum bertanding.” Artinya, menyerah sebelum mengikuti ujian disebabkan karena salah mensikapinya.[zah]
Posting Komentar